/* Footnote CSS Code */ .footnote{ border-top:1px dashed #333; padding:0 0 10px 0; margin:10px 0 0 0; font-size:smaller; }
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2022

AMAZING BOOKS SERIES



Pramoedya Ananta Toer pernah berpesan : "𝘮𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴..𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴.. 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴, 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢".

Kata-kata ini menjadi salah satu motivasi Saya dalam mulai menulis, yang Saya awali dengan menulis hal-hal yang begitu dekat dengan aktivitas yang Saya lakukan ke dalam sebuah bentuk karya non-fiksi. 

Saya semakin menyadari bahwa menulis juga termasuk dalam aspek keterampilan berbahasa, dimana ada empat aspek keterampilan berbahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi, yaitu : 1) mendengarkan (menyimak), 2) berbicara, 3) membaca, dan 4) menulis, yang kemudian melekat ke dalam sebuah kompetensi yang disebut dengan kompetensi berbahasa. 

Alhamdulillah hingga kini karya tulis yang Sayan tuangkan dalam bentuk buku sudah ada dalam tiga judul yaitu : Amazing Ice Breaker (2020), Amazing Virtual Ice Breaker (2020), dan Amazing Online Facilitator (2022). 

Terlepas dari itu semua, Saya juga sepakat dengan Pramoedya AT sekali lagi bahwa : "𝙈𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙖𝙗𝙖𝙙𝙞𝙖𝙣", dengan dukungan era digital saat ini, tulisan-tulisan akan tetap ada.. menjadi jejak-jejak yang dapat ditemui oleh generasi selanjutnya, bahkan ketika diri ini telah tiada.. Tulisan itu ada disana bagi siapapun yang mencarinya, menjadi pelipur lara, menghilangkan dahaga, hingga tuntunan menggapai asa.. 
#ADW
#amazingbooksseries
#amazingicebreaker
#amazingvirtualicebreaker 
#amazingonlinefacilitator

Minggu, 27 Maret 2022

PENTINGNYA MEMBACA ulang ketika selesai MENULIS (Re-READING)

Suatu hari, ketika Saya selesai menuliskan sebuah email formal yang ditujukan untuk seorang manager di sebuah perusahaan BUMN, Saya membaca kembali email tersebut sebelum mengirimkannya. Ternyata dalam proses membaca kembali email tersebut ditemukan satu kata yang typo dalam sebuah kalimat. Sayapun kemudian memperbaiki kata yang typo tersebut, dan setelah memastikan tidak ada lagi kesalahan serta semua isi email telah sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan, maka email kemudian Saya kirimkan. 
Bagaimana apabila Saya tidak melakukan proses membaca ulang surat tersebut dan langsung saja mengirimkan kepada orang yang bersangkutan ? Bagaimana efeknya ? 

Mungkin sebagian dari kita akan merespon dengan menjawab "kalau tidak terlalu prinsip atau signifikan kesalahan typo-nya tidak akan menjadi masalah", atau "ya sudahlah ya, nama juga manusia gak luput dari kesalahan 😁", atau "Saya diamkan saja dulu selama gak ada feedback atau respon dari penerima surat terkait typo dimaksud berarti dia memahami inti dari surat tersebut", dan lain sebagainya.

Untuk diketahui bahwa dalam proses menulis yang secara umum, ada tahapan-tahapannya atau istilahnya disebut dengan fase proses menulis. Adapun fase dalam proses menulis seperti yang disampaikan oleh Setyawan Pujiono [1] adalah : 
  1. pra-penulisan atau disebut sebagai tahapan persiapan menulis (Tompkins dan Hosskison, 2002) yaitu tahapan dimana terjadinya proses pramenulis seperti : 1) memilih/menentukan topik, 2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca, serta 3) mengidentifikasi dan menyusun ide-ide. Tahapan ini menjadi begitu penting karena akan menentukan proses tahapan menulis selanjutnya.
  2. penulisan atau disebut dengan tahapan pengembangan isi karangan, yaitu tahapan mengungkapkan fakta-fakta, gagasan, sikap, pikiran, argumen, perasaan dengan jelas dan efektif kepada pembaca (Keraf, 2004).
  3. pasca-penulisan atau disebut dengan tahapan telaah dan revisi atau editing, yaitu tahapan yang meliputi proses penyuntingan dan merevisi naskah atau tulisan yang telah ditulis sebelumnya. Menurut Tompkins dan Hosskisson (1995) proses penyuntingan merupakan pemeriksaan dan perbaikan unsur mekanik karangan seperti ejaan, puntuasi, diksi, pengkalimatan, pengalineaan, gaya bahasa, dan konvensi penulisan lainnya. Tahapan ini mengarah kepada perbaikan dan pemeriksaan subtansi isi tulisan atau naskah.
Dari penjelasan diatas proses re-reading atau membaca ulang masuk dalam fase penting dalam kegiatan menulis yaitu fase pasca penulisan, dimana dalam fase ini dilakukan proses pembacaan ulang naskah tulisan yang bertujuan mengevaluasi sebelum dipublikasi atau dikirimkan. Adapun proses evaluasi mencakup setidaknya kepada lima hal penting berikut :
  1. Apakah terjadi pengulangan kata atau kesalahan penulisan (typo) pada kalimat-kalimat yang dituliskan ?
  2. Apakah naskah tulisan sudah sesuai kepada ejaan yang disempurnakan (EYD) ?
  3. Apakah diksi[2] dalam setiap kalimat yang dituliskan sudah tepat ? 
  4. Apakah Saya sendiri dapat memahami dengan mudah dan jelas dari setiap kata dan kalimat yang Saya tuliskan ?
  5. Apakah sudah sesuai antara isi naskah atau tulisan dengan maksud dan tujuan penulisan ?
Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.[3]
Pada postingan sebelumnya disini telah disampaikan bahwa ada empat aspek keterampilan dalam berbahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi, dan membaca merupakan salah satu dari ke-empat aspek keterampilan berbahasa yang melekat ke dalam kompetensi berbahasa.

Dengan membaca ulang setelah selesai menulis maka penulis dapat mengevaluasi dan memperbaiki tulisannya sebelum mengirimkan atau mempublikasikannya, termasuk memastikan terjadi kesesuaian antara isi tulisan dengan tujuan penulisan. 


[1] Setyawan Pujiono. KONSEP DASAR MENULIS. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132318127/pendidikan/Konsep+Menulis_0.pdf 
[2] Diksi : pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). https://kbbi.web.id/diksi 
[3] Tarigan, H.G (2008). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung. Angkasa

Sabtu, 26 Maret 2022

MENGAPA SAYA HARUS MENULIS ?

Pertanyaan ini mungkin tidak ada dalam benak pikiran Saya sejak kecil hingga tahun 2013 yang lalu. Kok bisa, ya bisa saja dong karena memang tidak terpikir sedikitpun tentang menulis itu sendiri. Kalaupun dulu pertanyaan tersebut ditanyakan kepada Saya maka Saya akan menjawab "TIDAK" karena alasan-alasan berikut :
  1. Bingung mau menulis apa ?
  2. Gak ngerti memulainya bagaimana ?
  3. Rumit dan gak jago dalam merangkai kata-kata
  4. Tidak punya waktu, (walau alasan ini terkait dengan alasan 1, 2, 3 diatas yang membuat Saya tidak menyediakan waktunya 😁)
Menulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya); melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan.

Menulis termasuk dalam aspek keterampilan berbahasa, dimana ada empat aspek keterampilan berbahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi,[1] yaitu : 1) mendengarkan (menyimak), 2) berbicara, 3) membaca, dan 4) menulis. Empat keterampilan berbahasa ini melekat ke dalam sebuah kompetensi yang disebut dengan kompetensi berbahasa

Kompetensi berbahasa seperti yang dijelaskan oleh Sunarti dan Nursalim (2018), merupakan penguasaan seseorang terhadap konten yang terdapat di dalam bahasa yang dipelajari.[2]

"Kompetensi berbahasa membentuk seseorang menjadi teratur, terstruktur, dan terukur dalam berbahasa dan tidak hanya memproduksi tutur kata dengan bunyi tanpa makna."

Kompetensi berbahasa ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan berkomunikasi dari seseorang, karena komunikasi merupakan sebuah proses pengiriman pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan media apapun yang menimbulkan efek pada komunikannya, artinya untuk bisa mengirimkan sebuah maupun serangkaian pesan dengan baik dan menimbulkan efek sesuai dengan tujuan pesan itu disampaikan maka salah satu yang teramat penting dimiliki oleh Komunikator adalah kompetensi berbahasa.

Saya harus kompeten dalam berbahasa karena ini adalah kebutuhan bagi Saya dan profesi Saya!
Inilah yang menjadi jawaban bagi diri Saya kini ketika menjawab pertanyaan "Mengapa Saya harus menulis ?" Dan hal ini juga yang kemudian menggerakkan Saya untuk mulai menulis (walau beberapa tulisan Saya di blog ini Saya hapus karena struktur bahasa yang kurang teratur menurut Saya), dan  hingga kini telah melahirkan beberapa karya tulis dan buku.

Lalu bagaimana menurut Anda  ?
Apakah kompetensi berbahasa ini menjadi penting dan dibutuhkan oleh Anda ?
Apakah Anda sudah menulis hari ini ?
Silahkan merefleksikan diri 😁

Semoga menginspirasi!
Salam,
#ADW


[1] Tarigan, Hery Guntur. (2013). Menulis: sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa
[2] Sunarti dan Nursalim.(2018).Kompetensi Bahasa Anak.PENTAS: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. http://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/pentas/article/view/841/757

Selasa, 22 Maret 2022

Pengertian Ice Breaking

Sering kali didapati dalam sebuah program acara/kegiatan ketika suasana menjadi mulai (terasa) membosankan, atau garing istilahnya sehingga peserta atau penonton yang hadir menjadi kurang perhatian kemudian berdampak kepada menurunnya antusiasme terhadap program acara/kegiatan tersebut. Hal ini sebenarnya merupakan kewajaran yang umum terjadi, karena tingkat kemampuan daya fokus atau konsentrasi penuh peserta atau penonton dalam sebuah program acara/kegiatan biasanya hanya berada pada 5 sampai dengan 15 menit pertama, oleh karenanya tak sedikit para panitia maupun penyelenggara acara/kegiatan membutuhkan sebuah sesi khusus, dimana peserta atau penonton diharapkan bisa terbangun tingkat fokus dan konsentrasinya melalui sebuah aktivitas yang aktif, interaktif dan ceria.

"Biar gak ngantuk" adalah kata-kata yang seringkali diucapkan.

Aktivitas Ice Breaking adalah aktivitas yang dilakukan dalam rangka mencairkan suasana menghilangkan kebekuan atau kekakuan yang terjadi di antara peserta baik dalam kegiatan pelatihan, seminar, workshop, kelas belajar mengajar, outbound, gathering, hingga rapat-rapat kerja. Ice Breaking bisa juga dilakukan sebagai sarana perkenalan diantara peserta dengan membangun interaksi yang baik dan positif, sehingga peserta bisa merasa nyaman dalam suasana senang dan riang penuh keceriaan. Aktivitas Ice Breaking dapat membantu dalam membangun suasana menjadi lebih hidup dalam sebuah program acara/kegiatan.

*sumber : Buku Amazing Ice Breaker (Rahul Rahman & Adi Waluyo, 2020)



Selasa, 06 April 2021

ICE BREAKING LEBIH SEHAT DENGAN BERTEPUK TANGAN


Link Gambar : https://www.freepik.com/free-vector/flat-hands-applauding-background_4420190.htm#page=1&query=clap&position=8




Siapa yang tidak mengenal tepuk tangan atau bertepuk tangan ? Baik anak -anak hingga orang dewasa kenal dengan bertepuk tangan. Dikala usia masih bayi Saya bakan anak- anak Saya kerap mengajak anak untuk bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu “Pok ame-ame..belalang kupu-kupu, siang makan nasi Kalau malam minum susuuuuu” (Mungkin lagu ini sudah masuk kategori legend dan Saya kurang yakin apakah masih dinyanyikan hingga saat ini atau berarti Saya termasuk dalam kategori generasi lawas :)).



Seringkali dalam sesi Ice Breaking, tepuk tangan digunakan baik untuk pendamping aktivitas maupun sebagai aktivitas utama. Berbagai jenis tepukan yang divariasikan oleh Game Master selalu membuat keseruan tersendiri saat melakukan aktivitas Ice Breaking. Tapi kira-kira, apakah Anda tahu kalau ternyata tepuk tangan itu sebenarnya baik dan bisa menstimulus kesehatan tubuh ?


Bagi bayi, kemampuan untuk bertepuk tangan secara sendiri merupakan momen penting, karena hal tersebut menandakan si bayi kecil mulai paham dan bisa mengontrol anggota tubuhnya. 

Bertepuk tangan kerap dilakukan dalam rangka memberikan apresiasi atas tindakan baik yang dilakukan oleh seseorang. Bisa bersifat spontanitas, namun juga bisa sebagai hasi dari sebuah instruksi yang dilakukan. Contoh ketika kita melihat sebuah atraksi sirkus dimana ada seorang pemain sirkus berjalan meniti seutas tali dari satu lokasi ke lokasi lain di ketinggian tertentu dan berhasil tiba dengan selamat ditujuan, secara spontan biasanya penonton akan bertepuk tangan setelah pemain tersebut berhasil melintasi dengan selamat. Contoh lain lagi tepuk tangan juga bisa diartikan oleh sebagian orang sebagai bentuk alat bantu dalam memanggil sesuatu baik orang atau bahkan hewan peliharaan.

 

Apapun bentuk dan prosesnya, tepuk tangan biasanya selalu membawa sebuah pesan, keceriaan, semangat, dan hal positif bagi pelakunya maupun yang mendengarkannya, namun tidak banyak orang yang mengetahui bahwa aktivitas tepuk tangan ini memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan. 


Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena saat kita melakukan tepuk tangan, terjadi beberapa proses tekanan-tekanan ke titik tertentu di area telapak tangan dan terhubung langsung dengang syaraf ke berbagai organ dalam tubuh. 


Tepuk tangan selain dapat membangun semangat, juga data menstimulus rangsangan terhadap saraf yang ada di tubuh kita.

Tepuk tangan bahkan bisa menjadi sebuah bentuk terapi, bisa membantu penyembuhan dari penyakit jantung dan gangguan di paru-paru seperti asma namun pastinya ada teknik dan petunjuk yang benar agar prosesnya berlangsung dengan tepat sehingga hasilnya juga bermanfaat. 


Berikut beberapa manfaat yang diperoleh dari bertepuk tangan secara teratur antara lain : 

  1. Melancarkan sirkulasi darah
  2. Membantu kelancaran sirkulasi oksigen masuk dan keluar paru-paru
  3. Membantu meredakan nyeri di beberapa bagian tubuh

Dari beberapa manfaat tersebut dapat memberikan dampak positif juga terhadap tubuh seperti : 

  1. Sirkulasi darah menjadi lebih baik, asupan oksigen baik, sehingga tekanan darah
    dalam tubuh menjadi lebih stabil
  2. Merangsang otak menjadi lebih tajam secara kinerja

Nah, sedikit informasi tentang manfaat tepuk tangan ini semoga menambah wawasan kita dalam mengkreasikan berbagai macam tepukan tangan dalam berbagai macam aktivitas yang ada.

Selamat mencoba!