/* Footnote CSS Code */ .footnote{ border-top:1px dashed #333; padding:0 0 10px 0; margin:10px 0 0 0; font-size:smaller; }

Minggu, 27 Maret 2022

PENTINGNYA MEMBACA ulang ketika selesai MENULIS (Re-READING)

Suatu hari, ketika Saya selesai menuliskan sebuah email formal yang ditujukan untuk seorang manager di sebuah perusahaan BUMN, Saya membaca kembali email tersebut sebelum mengirimkannya. Ternyata dalam proses membaca kembali email tersebut ditemukan satu kata yang typo dalam sebuah kalimat. Sayapun kemudian memperbaiki kata yang typo tersebut, dan setelah memastikan tidak ada lagi kesalahan serta semua isi email telah sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan, maka email kemudian Saya kirimkan. 
Bagaimana apabila Saya tidak melakukan proses membaca ulang surat tersebut dan langsung saja mengirimkan kepada orang yang bersangkutan ? Bagaimana efeknya ? 

Mungkin sebagian dari kita akan merespon dengan menjawab "kalau tidak terlalu prinsip atau signifikan kesalahan typo-nya tidak akan menjadi masalah", atau "ya sudahlah ya, nama juga manusia gak luput dari kesalahan 😁", atau "Saya diamkan saja dulu selama gak ada feedback atau respon dari penerima surat terkait typo dimaksud berarti dia memahami inti dari surat tersebut", dan lain sebagainya.

Untuk diketahui bahwa dalam proses menulis yang secara umum, ada tahapan-tahapannya atau istilahnya disebut dengan fase proses menulis. Adapun fase dalam proses menulis seperti yang disampaikan oleh Setyawan Pujiono [1] adalah : 
  1. pra-penulisan atau disebut sebagai tahapan persiapan menulis (Tompkins dan Hosskison, 2002) yaitu tahapan dimana terjadinya proses pramenulis seperti : 1) memilih/menentukan topik, 2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca, serta 3) mengidentifikasi dan menyusun ide-ide. Tahapan ini menjadi begitu penting karena akan menentukan proses tahapan menulis selanjutnya.
  2. penulisan atau disebut dengan tahapan pengembangan isi karangan, yaitu tahapan mengungkapkan fakta-fakta, gagasan, sikap, pikiran, argumen, perasaan dengan jelas dan efektif kepada pembaca (Keraf, 2004).
  3. pasca-penulisan atau disebut dengan tahapan telaah dan revisi atau editing, yaitu tahapan yang meliputi proses penyuntingan dan merevisi naskah atau tulisan yang telah ditulis sebelumnya. Menurut Tompkins dan Hosskisson (1995) proses penyuntingan merupakan pemeriksaan dan perbaikan unsur mekanik karangan seperti ejaan, puntuasi, diksi, pengkalimatan, pengalineaan, gaya bahasa, dan konvensi penulisan lainnya. Tahapan ini mengarah kepada perbaikan dan pemeriksaan subtansi isi tulisan atau naskah.
Dari penjelasan diatas proses re-reading atau membaca ulang masuk dalam fase penting dalam kegiatan menulis yaitu fase pasca penulisan, dimana dalam fase ini dilakukan proses pembacaan ulang naskah tulisan yang bertujuan mengevaluasi sebelum dipublikasi atau dikirimkan. Adapun proses evaluasi mencakup setidaknya kepada lima hal penting berikut :
  1. Apakah terjadi pengulangan kata atau kesalahan penulisan (typo) pada kalimat-kalimat yang dituliskan ?
  2. Apakah naskah tulisan sudah sesuai kepada ejaan yang disempurnakan (EYD) ?
  3. Apakah diksi[2] dalam setiap kalimat yang dituliskan sudah tepat ? 
  4. Apakah Saya sendiri dapat memahami dengan mudah dan jelas dari setiap kata dan kalimat yang Saya tuliskan ?
  5. Apakah sudah sesuai antara isi naskah atau tulisan dengan maksud dan tujuan penulisan ?
Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.[3]
Pada postingan sebelumnya disini telah disampaikan bahwa ada empat aspek keterampilan dalam berbahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi, dan membaca merupakan salah satu dari ke-empat aspek keterampilan berbahasa yang melekat ke dalam kompetensi berbahasa.

Dengan membaca ulang setelah selesai menulis maka penulis dapat mengevaluasi dan memperbaiki tulisannya sebelum mengirimkan atau mempublikasikannya, termasuk memastikan terjadi kesesuaian antara isi tulisan dengan tujuan penulisan. 


[1] Setyawan Pujiono. KONSEP DASAR MENULIS. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132318127/pendidikan/Konsep+Menulis_0.pdf 
[2] Diksi : pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). https://kbbi.web.id/diksi 
[3] Tarigan, H.G (2008). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung. Angkasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar